Politik dan Orang Baik

365

IMG_3590.JPGPolitik itu mulia. Demikian halnya dengan bidang lain. Kurang lebihnya adalah soal bagaimana cara kita menjalaninya. Jika dijalani dengar benar, kemuliaan politik adalah juga kemuliaan kita dan banyak orang.

Persepsi bahwa politik itu buruk dan kotor, itu sama sekali tidak menjelaskan tentang politik. Ia lebih menjelaskan bagaimana kecenderungan politisi kita menjalani politik. Politik dan orang yang menjalaninya adalah dua hal berbeda.

Jika politik baik, itu karena cara kita menjalaninya baik. Jika cara kita buruk, politik pun akan menjadi buruk. Cara kita adalah wajah kita. Cara berpolitik kita adalah wajah politik kita.

Maka sudah seharusnya politik diisi oleh orang-orang baik. Orang-orang yang tidak menjadikan politik sebagai lahan pekerjaan, melainkan sebagai lahan pengabdian. Pengabdian pada kepentingan banyak orang, pengabdian kepada bangsa dan negara.

Kita sambut gembira jika ada orang baik masuk politik. Semakin banyak semakin bagus. Itu pertanda politik yang makin memberikan harapan. Bukankah makin hari makin banyak orang kehilangan harapan akan politik?
Ini saatnya politik menjadi kepedulian dari orang-orang baik.

Sebaiknya jangan pernah persoalkan orang baik masuk dunia politik, sebab ujung politik sebenarnya adalah kebaikan (kemaslahatan) bersama. Politik yang baik tidak dihasilkan oleh orang-orang baik di luar pagar. Ia dihasilkan oleh orang-orang baik di dalam pagar. Jangan pasang pagar di antara politik dan orang baik.

Jika ada orang baik masuk politik, dukung mereka. Jika orang baik ikut kontestasi politik, menangkan mereka. Jangan membiarkannya bertarung sendiri. Ia pasti kalah jika sendirian. Ia harus dimenangkan ramai-ramai, dimenangkan bersama-sama.

Jika kita membiarkan orang baik bertarung sendirian dalam kancah politik, sesungguhnya kita adalah orang yang egois, mementingkan diri sendiri. Orang egois selalu kehilangan relevansinya bagi lingkungan dimana ia tinggal, bagi masyarakat dimana ia hidup. Orang baik yang berpangku tangan melihat politik yang buruk adalah politisi yang buruk. Orang baik yang membiarkan partai politik membusuk adalah politisi yang busuk.

Jika merasa baik, masuklah politik, masuklah partai politik. Ia akan segera menunjukkan sejauhmana kebaikan dalam diri kita dan maknanya bagi bangsa. Percuma menganggap diri baik tapi kita tak bermakna secara sosial. Kesalehan individu itu baik, tapi sungguh tak memadai. Kesalehan individu harus sama besarnya dengan kesalahen sosial. Masuk surga pun akan lebih baik jika kita mengajak-ajak orang lain. Jangan berusaha masuk surga sendirian. Rasanya tidak afdhol, tidak utama.

Politik itu ibarat melati di tengah lumpur kepentingan. Sentuhlah dengan hatimu, bukan kakimu. Hanya dengan begitu putih wanginya terjaga.

Bukan orang baik kalau kita tak pernah berani masuk ke dalamnya. Orang baik sejati adalah orang yang berani masuk dalam lumpur kepentingan tetapi tidak belepotan saat keluar. Bukan orang baik juga apabila kita menyendiri di tengah hutan dan asyik dengan dunia sendiri. Kita disebut baik justru karena interaksi kita dengan orang lain memberikan kemanfaatan, memberikan makna bagi apa yang disebut “hidup bersama”.

Sering kita lihat orang baik berbangga justru karena ia tidak berpolitik. Kebanggaan begitu jelas subyektif belaka. Cobalah masuk politik dan kelak kita akan tahu apakah kita benar-benar orang bak. Banyak orang baik terlihat baik saat jauh dari politik. Tetapi saat masuk dunia politik ia segera terlihat aslinya. Power tends to corrupt, kata Lord Acton. Tetapi jika kita benar-benar menjaga diri dalam politik, sesungguhnya ia adalah jalan paling cepat menuju kebaikan, menuju surga.

Benar, politik praktis berurusan dengan soal menang-kalah. Tetapi ingat, menang-kalah pun harus mulia caranya, sebab tiada guna kemenangan tanpa keberkahan. Bagi orang baik, bukan the end justifies the means (tujuan menghalalkan segala cara) seperti postulasi Machiavelli, melainkan the means reflects the end (cara mencerminkan tujuan). Tujuan yang baik hanya pantas dicapai dengan cara-cara yang baik.***