Atasi Tawuran, Perkuat Pendidikan Karakter

376
MHD

Jakarta Jurnal Nasional; SEKRETARIS Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR RI M Hanif Dhakiri menyatakan prihatin atas maraknya peristiwa tawuran antarpelajar hingga menimbulkan jatuhnya korban jiwa.

Hanif menilai, tawuran antarpelajar akibat lemahnya pendidikan karakter di sekolah, memudarnya keteladanan sosial dari berbagai elit masyarakat, dan kurangnya ruang publik bagi kreativitas para pelajar dan remaja. “Untuk jangka panjang, tawuran dapat diatasi dengan memperkuat pendidikan karakter,” kata Hanif Dhakiri saat dihubungi Jurnal Nasional, Jumat (28/9).

Hanif menilai pendidikan moral dan agama kurang mendapatkan tempat yang proporsional dan terlampau sedikit dibandingkan pelajaran lain. Ironisnya, pendidikan moral keagamaan hanya bersifat formalistik dan sangat terbatas tanpa mengarah ke pembentukan karakter.

“Memudarnya keteladanan sosial di dalam masyarakat juga menjadi salah satu faktor insiden kekerasan di masyarakat, termasuk di kalangan pelajar,” kata Hanif yang juga Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional Garda Bangsa, organisasi sayap Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Elit masyarakat, lanjut Hanif, kerap mempertontonkan intoleransi sosial. Sehingga, disengaja atau tidak, banyak berpengaruh terhadap aksi dan tindakan brutal para remaja atau pelajar.

Ia juga menyoroti tentang munculnya gejala tindak kekerasan di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru kepada siswa maupun kekerasan yang terjadi di antarmereka. Karena itu, Hanif berharap seluruh pihak yang terkait harus segera mengambil langkah-langkah antisipatif agar tawuran antarpelajar tidak terulang.

Menurutnya, ruang berkreasi bagi para pelajar untuk menyalurkan hobi, bakat dan minat mestinya diperluas. Selain itu, siaran televisi harus diawasi Sebab, ada kecenderungan ruang publik, khususnya televisi, menjejali para remaja dan publik umumnya dengan nilai-nilai dan budaya materialisme, hedonisme, konsumerisme serta tayangan-tayangan kekerasan fisik lainnya. Itu juga bisa menjadi pemicu gagalnya internalisasi diri siswa/pelajar dalam menyelesaikan masalah-masalah di sekelilingnya.

Garda Bangsa, lanjut Hanif, memandang perlu adanya tindakan para elit masyarakat dan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab untuk melakukan upaya-upaya. Antara lain: menghadirkan figur yang baik dan mentradisikan sikap santun sebagai contoh dan suri tauladan bagi para remaja. Ini penting demi terciptanya suasana harmonis, toleran, saling menghormati dan mengasihi antarsesama.

Hanif juga mendorong agar lembaga pendidikan atau sekolah berperan aktif dalam kegiatan belajar-mengajar serta mengefektifkan kegiatan keorganisasian, ruang berkreasi, baik intra maupun ektstrakurikuler sekolah yang aksesibel untuk semua